ZAT MAKANAN
ZAT MAKANAN
ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA
OLEH :
KELOMPOK III / SESI 2018 C
MERI ARLINA 18010071
OSMERIZA PUTRI 18010086
YULI OKTAVIA 18010090
DOSEN PENGAMPU :
YOSMED HIDAYAT M,Si.
PROGRAMSTUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2021
URAIAN MATERI
A. PENGERTIAN DAN FUNGSI ZAT MAKANAN BAGI TUBUH MANUSIA.
Pengertian :
Zat makanan merupakan bahan-bahan yang diperlukan oleh tubuh agar kita bisa
bertahan hidup,maka dari itu kita harus mengetahui semua jenis zat makanan yang baik bagi
tubuh.
Secara garis besar zat makanan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a. Zat makanan sebagai penghasil energi, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak.
b. Zat makanan sebagai pembangun (pertumbuhan dan mengganti sel-sel yang rusak), yaitu protein
c. Zat makanan sebagai pelindung (menjaga keseimbangan tubuh), yaitu vitamin dan mineral.
Fungsi :
Menurut Asmira Sutarto (1980: 10) secara umum fungsi zat makanan adalah sebagai berikut:
a. Memberi bahan untuk membangun tubuh dan memelihara serta memperbaiki bagian-bagian tubuh yang hilan dan rusak.
b. Memberi kekuatan atau tenaga, sehingga kita dapat bergerak dan bekerja.
c. Memberi bahan untuk mengatur proses-proses dalam tubuh.
d. Membangun dan memelihara tubuh.
B. PROSES PENYERAPAN ZAT MAKANAN OLEH TUBUH.
Penyerapan pada usus halus
Penyerapan makanan umumnya terjadi dalam usus halus jejunum dan ileum. Di sana terdapat banyak lipatan atau disebut jonjot-jonjot usus (vili). Vili memiliki fungsi memperluas permukaan penyerapan, sehingga makanan dapat terserap dengan lebih efisien.
Selama proses penyerapan, molekul makanan akan memasuki aliran darah melalui dinding usus. Pembuluh darah mikroskopik atau kapiler dalam vili akan menyerap hasil pencernaan yang berupa protein dan karbohidrat, sedangkan pembuluh getah bening dalam vili akan menyerap lemak.
Dari situ, aliran darah akan membawa makanan yang sudah dicerna menuju ke hati.
Sel-sel hati kemudian akan menyaring zat-zat berbahaya dalam darah. Hati juga akan menyimpan vitamin larut dalam lemak serta nutrisi yang berlebihan, seperti glukosa untuk disimpan sebagai cadangan. Cadangan nutrisi ini akan dilepaskan ketika tubuh memerlukan energi ekstra misalnya ketika seseorang lari maraton.
Penyerapan pada usus besar
Sebagian besar yang masuk ke dalam usus besar adalah sisa-sisa makanan yang tidak dapat dicerna atau diserap dan air. Usus besar terdiri dari enam bagian, dimulai dari sekum, kolon asenden, kolon transversum, kolon desenden, kolon sigmoid, dan diakhiri dengan rektum.
Tugas utama usus besar adalah menyerap air dan mineral dari sisa makanan tersebut sehingga membuatnya menjadi lebih padat dan membentuk tinja. Gerak peristaltik kemudian akan mendorong tinja menuju rektum hingga dikeluarkan melalui anus.
Produk pencernaan makanan baik berupa monosakarida, asam amino, maupun asam lemak dan gliserol harus diabsorbsi dari saluran pencernaan sebelum dapat digunakan oleh tubuh. Proses absorbsi memerlukan pergerakan molekul-molekul nutrisi dari lumen saluran pencernaan melewati membran dan menuju ke sel-sel yang menjadi dinding lumen. Dari sel-sel dinding lumen tersebut, molekul-molekul nutrisi akan didistribusikan dengan proses-proses peredaran. Proses absorbsi substansi dari system pencernaan dapat berlangsung
dengan dua cara yaitu dengan cara pasif atau dengan proses mediasi molekul pembawa (carrier-mediated process).
Cara pasif salah satunya adalah difusi sederhana, berlangsung karena adanya gradien konsentrasi dimana konsentrasi suatu substansi di dalam saluran pencernaan harus lebih tinggi daripada di dalam sel-sel absorbtif. Proses ini tidak memerlukan energi, dan akan terus berlanjut hingga konsentrasi di kedua sistem menjadi seimbang. Cara kedua adalah dengan difusi difasilitasi (facilited difusion) yang juga tidak memerlukan energi dan berjalan atas dasar gradien konsentrasi. Akan tetapi proses pencapaian keseimbangan konsentrasinya akan lebih cepat dibandingkan dengan difusi sederhana. Dalam prosesnya, difusi ini berlangsung dengan bantuan molekul pentranspor berupa protein yang tertanam di dalam membran yang akan membawa molekul makanan ke dalam sel. Akan tetapi, pada beberapa cara, proses difusi difasilitasi ini merupakan proses separuh dari transpor aktif.
C. ZAT ADITIF DAN ADIKTIF BESERTA PENGELOMPOKANNYA.
ZAT ADITIF
Pengertian:
Zat aditif menurut WHO (World Health Organization) adalah zat – zat yang ditambahkan pada makanan dalam jumlah sedikit untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa, tekstur, atau memperpanjang masa penyimpanan.
Persyaratan penambahan zat aditif dalam makanan yaitu:
Memperbaiki kualitas atau gizi makanan.
Membuat makanan tampak lebih menarik.
Meningkatkan cita rasa makanan.
Membuat makanan menjadi lebih tahan lama atau tidak cepat basi atau busuk.
Pengelompokan Zat Aditif
a) Pengelompokan zat aditif berdasarkan asalnya :
a. Zat aditif alami : berasal dari sumber alami
b. Zat aditif sintetik : berasal dari bahan-bahan kimia (buatan pabrik)
b) Pengelompokan zat aditif berdasarkan fungsinya :
1) Pewarna
Tujuan pemberian warna pada makanan adalah agar terlihat menarik dan menggugah selera makan. Jenis-jenis pewarna, antara lain adalah:
Alami
Kelebihan dari zat pewarna alami adalah aman dikonsumsi, menghasilkan aroma yang enak dan khas selain warnanya. Kekurangan dari zat pewarna alami adalah pilihan warnanya terbatas dan warnanya tidak tajam seperti pewarna sintetis dan tidak praktis
Sintetik
Kelebihan dari pewarna sintetik adalah pilihan warna banyak dan praktis Kekurangan dari zat pewarna sintetik adalah tidak menghasilkan aroma, ada pewarna yang tidak cocok untuk makanan dan beresiko menimbulkan penyakit. Pewarna sintetik yang berbahaya bagi kesehatan contohnya adalah pewarna tekstil. Terkadang orang mempergunakan pewarna tekstil untuk mewarnai makanan. Warnanya sangat menyolok dan tampak bagus. Tetapi sangat berbahaya bagi kesehatan.
Beberapa pewarna sintetis sudah dilarang digunakan untuk makanan,
misalnya :
Rodhamin B, karena menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan dan bahaya kanker hati.
Metanil yellow, menyebabkan : iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, dan bahaya kanker pada kandung dan saluran kemih.
2) Pemanis
Berfungsi menambah rasa manis pada makanan dan minuman. Bahan ini tidak atau hampir tidak mempunyai nilai gizi, contohnya sakarin (kemanisannya 500x gula), dulsin (kemanisannya 250x gula), dan natrium siklamat (kemanisannya 50x gula) dan serbitol.
Ada 2 jenis pemanis, yaitu pemanis alami dan pemanis buatan.
a. Pemanis alami, berasal dari buah dan madu, jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan kegemukan, pemanis ini berbahaya jika dikonsumsi penderita diabetes.
b. Pemanis buatan, tidak dapat dicerna sehingga tidak dapat dijadikan sebagai sumber energi. Pemanis buatan merupakan pilihan untuk penderita dibetes. Contoh pemanis buatan adalah sakarin, natrium siklamat, magnesium siklamat, kalsium siklamat, aspartam. Pemakaian berlebihan merangsang tumor kandung kemih dan bersifat karsinogenik (penyebab kanker).
3) Pengawet
Zat aditif ini dapat mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman
atau penguraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme.
Contoh bahan pengawet dan penggunaannya:
Asam benzoat, natrium benzoat dan kalium benzoat, untuk minuman ringan, kecap, acar ketimun dalam botol dan caos.
Natrium nitrat (NaNo3), untuk daging olahan dan keju.
Natrium nitrit (Na No2), untuk daging olahan, daging awetan dan kornet kalangan.
DAFTAR PUSTAKA
Santoso, Putra. 2020. Fisiologi Hewan (Prinsip-prinsip Dasar). Padang: Andalas University Press.
Agus Kresno, 2017. Dasar-dasar Ilmu Gizi. UMM Press
Amalia, Rizky. 2016. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Android Materi Zat Aditif Dan Zat Adiktif Untuk Tingkat Smp Kelas VIII. Malang : FMIPA UM
https://www.klikdokter.com/infosehat/read/3616438/apa-jadinya-bila-tubuh-kelebihan-gizi

bagus sekali
BalasHapus